REALITY? IMAGINATION?

November 11, 2009

MALAM INI

Filed under: POEM — burselfwoman @ 2:06 am

Kubelah malam ini

Kupastikan satu tempat dimasa depan

Untukku…

Dan untukmu anakku

 

Kuterjang malam ini

Gelap menggoyah nyali

Darimana kekuatan itu

Tak sempat kucerna

 

Kusinari malam ini

Kusertakan tubuh-tubuh mungilku

Kantuk…lelah…

Kalian terlelap tanpa daya

 

Kuarungi malam ini

Maafkan anakk

Kurebut rehatmu

Bantulah aku…dengan hadirmu

 

Kusyukuri malam ini

Malam lain mungkin kami sudah terbujur kaku

Tidak malam ini

Aku masih berdaya menaklukkan  malam ini

HIDUP MENUNGGU MATI?

Filed under: CONTEMPLATION — burselfwoman @ 2:04 am

Esensi hidup sebenarnya hanya menunggu mati. Namun cara manusia menunggu saatnya mati memang tak terhitung ragamnya. Dengan cara menuntut ilmu setinggi-tingginya, bercinta sebanyak-banyaknya, melalang bumi, pergi ke bulan, memendam diri di dapur, menggelembungkan body, berkhayal sampai sakau, berceramah sampai mulut berbuih, mengoleksi berlian, cari musuh, dan masih banyak lagi. Karena pada dasarnya menunggu itu memang membosankan.
Namun secara garis besar tentu ada dua jalan, baik dan buruk. Tentusaja jasad manusia berbau busuk. Namun setelah jasad dipendam, bau busuk itu akan berganti harum jika manusia memilih jalan baik selama menunggu mati. Sebaliknya bau busuk akan menyebar sebusuk perbuatan kita selama menunggu mati.
Lalu apa peduli kita? Toh sudah mati. Harum atau busuk, toh kita tidak ikut membaui? Benar kita tidak ikut membaui, namun bau itu juga mengkontaminasi orang-orang disekitar kita. Nurani, yang membedakan manusia dengan binatang, akankah membiarkan kita meninggalkan bau busuk di tubuh orang-orang yang kita tinggalkan? Orang-orang yang kita tinggalkan masih harus menghabiskan waktu untuk menunggu mati. Bagaimanakah cara orang-orang tersebut menghabiskan waktu dengan bau busuk menyelimuti tubuhnya?
Esensi hidup sebenarnya hanya menunggu mati. Namun cara manusia menunggu saatnya mati memang tak terhitung ragamnya. Dengan cara menuntut ilmu setinggi-tingginya, bercinta sebanyak-banyaknya, melalang bumi, pergi ke bulan, memendam diri di dapur, menggelembungkan body, berkhayal sampai sakau, berceramah sampai mulut berbuih, mengoleksi berlian, cari musuh, dan masih banyak lagi. Karena pada dasarnya menunggu itu memang membosankan.
Namun secara garis besar tentu ada dua jalan, baik dan buruk. Tentusaja jasad manusia berbau busuk. Namun setelah jasad dipendam, bau busuk itu akan berganti harum jika manusia memilih jalan baik selama menunggu mati. Sebaliknya bau busuk akan menyebar sebusuk perbuatan kita selama menunggu mati.
Lalu apa peduli kita? Toh sudah mati. Harum atau busuk, toh kita tidak ikut membaui? Benar kita tidak ikut membaui, namun bau itu juga mengkontaminasi orang-orang disekitar kita. Nurani, yang membedakan manusia dengan binatang, akankah membiarkan kita meninggalkan bau busuk di tubuh orang-orang yang kita tinggalkan? Orang-orang yang kita tinggalkan masih harus menghabiskan waktu untuk menunggu mati. Bagaimanakah cara orang-orang tersebut menghabiskan waktu dengan bau busuk menyelimuti tubuhnya?
hidusebenarn

Filed under: CONTEMPLATION — burselfwoman @ 1:44 am

Sometimes kids are tougher that we thought and we, so called grown-up, sometimes get the strength from them.

September 17, 2009

TERLELAP

Filed under: POEM — burselfwoman @ 1:48 am

Aku lelap di alas keras

Kujauhi lembut kasur empuk kita

Itu singgasana suci kita

Ketika singgasana itu ternoda…

Aku lelap di alas keras

Nikmat dalam sendiri

Aku remuk… rusak… hancur…

Kunikmati lelapku sendiri di alas keras

Hanya itu yang kumiliki

September 14, 2009

THE REAL LOSERS

Filed under: CONTEMPLATION — burselfwoman @ 5:05 pm

Decision can be right or wrong. When decision is right, just grab the reward. When the decision is wrong, you can cry for a few minutes, then let’s fight back. The real losers are those who don’t have any guts to make decision.

September 8, 2009

ROH

Filed under: POEM — burselfwoman @ 10:51 pm

Takkan kunikmati malam jika tak mampu kulewati siang

Takkan kutemui siang jika tak hendak kuarungi malam

Kulewati siang, berharap imbalan indahnya sore

Kulewati malam, berharap imbalan sejuknya pagi

….sebagai roh…untuk bertahan hidup.

April 21, 2009

KEBAHAGIAAN SEJATI

Filed under: CONTEMPLATION — burselfwoman @ 5:11 am

Kebahagiaan sejati adalah apabila kita mampu mencintai sesuatu atau seseorang tanpa mengharapkan balasan. Karena kebahagian sejati bukanlah pada sesuatu atau seseorang yang mampu memberi kita segala kelebihan, tapi justru sangat mendasar pada sesuatu atau seseorang yang tidak mampu memberi kita apa-apa. Jika kita tidak bahagia maka sebenarnya kita sudah diambang kehampaan hidup, lalu mati. Sebelum mati, ingatlah bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan sia-sia. Seorang penjahat diciptakan untuk membuat seorang polisi bekerja lebih baik. Seorang anak berandal diciptakan untuk membuat seorang ayah menjadi lebih sabar. Seorang suami yang bejat diciptakan untuk menjadikan seorang istri pemaaf. Seorang yang tidak memiliki apapun atau siapapun diciptakan untuk menjadi seorang yang pantang menyerah bagi nasibnya sendiri. Jika kita bisa menemukan arti diri kita sendiri maka kita akan mampu mencintai kembali. Mencintai suami, orangtua, teman, ketidakpunyaan bahkan kesialan kita. Kita hanyalah manusia biasa, tidak perlu mencintai semuanya. Hidup adalah memiliki kebahagiaan sejati dalam bentuknya yang paling mendasar dan minimal. Tidak muluk bukan? Namun tidak semua orang mampu meraihnya terutama yang sudah berada dalam kehampaan. Karena sekali lagi, kita hanyalah manusia biasa.

April 20, 2009

SEBUAH PELUKAN

Filed under: SHORT STORIES — burselfwoman @ 5:11 am

Umurku sudah 40 tahun sekarang. Aku tidak bisa seperti balita yang tiap saat merengek-rengek minta dipeluk. Namun ya Allah, aku sangat merindukan satu pelukan saja. Aku tidak peduli dari siapa pelukan itu. Haruskah aku meminta? Kepada siapa? Bisakah aku memeluk seseorang didekatku begitu saja?

Sepuluh tahun lalu, aku bisa memberikan pelukan begitu saja tanpa banyak berpikir haruskah atau bolehkah atau pantaskah? Aku bisa memeluk berpuluh-puluh kali dalam sehari. Bukan, bukan, aku bukan perempuan gampangan. Ha…ha…ha…. Sepuluh tahun lalu, aku bisa memeluk anakku kapan saja kumau. Aku bisa berlama-lama memeluknya sampai aku puas. Semakin lama aku memeluknya, semakin nyaman anakku dalam dekapanku. Bahkan beberapa saat setelah aku puas memeluknya, aku memeluknya lagi. Sepuluh tahun yang lalu aku bisa memeluk suamiku kapanpun dia ada didekatku. Aku bisa memeluknya sambil nonton TV, sambil menunggui anak kami karnaval, sambil jalan-jalan ditempat-tempat hiburan, didepan mertua, didepan teman-teman, dan tentu saja dikamar kami.

Sepuluh tahun lalu aku memang teramat jarang memeluk orangtuaku. Orangtuaku selalu memposisikan diri sebagai orangtua yang harus dihormati. Aku harus selalu bersikap sopan dihadapan mereka. Aku jarang menyentuh mereka. Aku hanya memeluk mereka ketika aku menikah dan tiap Lebaran. Mungkin sewaktu aku kecil mereka sering memeluk aku. Tapi aku tidak ingat. Tidak membekas dihatiku. Aku juga tidak memiliki foto kami sedang berpelukan. Aku sering membayangkan betapa nyamannya aku dalam pelukan ibuku. Anehkah jika aku seumur ini minta sebuah pelukan pada ibuku, sementara ketika aku masih muda dan dicampakkan pacarku dulu, aku enggan memeluknya dan mengadu?

Aku tak bisa mengingat kapan aku mulai kehilangan pelukan anakku. Aku bahkan tidak merasakan lambat laun pelukan itu mulai jarang dan akhirnya menghilang, sampai detik ini ketika aku tersadar. Ketika aku tersadar, aku sungguh-sungguh menginginkan pelukan itu. Tapi anehkah jika aku meminta sebuah pelukan kepada anakku? Anak-anak menapaki masa remaja dan entah karena kedataran perasaanku atau karena kesibukanku, anak-anak kehilangan keintiman denganku. Anak-anak tidak pernah lagi datang padaku tanpa alasan khusus. Mereka tidak pernah datang lagi padaku semata-mata hanya untuk mencari comfort. Mereka selalu datang dengan berbagai alasan serius seperti, minta uang les, berkelahi dengan teman, diskors sekolah, kena tilang, kecopetan, perlu buku baru, minta notebook, isi pulsa….Hal-hal seperti itu.

Aku menginginkan kembali sebuah pelukan justru karena aku kehilangan pelukan dari suamiku secara mendadak akhir-akhir ini. Suamiku…. Suamiku adalah seorang penyayang. Aku nyaman sekali dalam dekapannya. Aku tidak perlu meminta. Namun kini aku harus menolaknya ketika aku menemukan foto-fotonya dengan perempuan lain. Aku tidak mengenal perempuan itu. Tidak penting. Yang terpenting adalah kenyataan bahwa perempuan itu telah mendapat pelukan yang sama denganku dari suamiku selama bertahun-tahun. Sekalipun suamiku telah memohon ampun dan mencium telapak kakiku, aku tak kuasa menerima pelukannya tanpa rasa sakit yang mendalam. Aku sangat mencintainya, aku sangat merindukannya setelah sekian bulan aku mendiamkannya. Aku merindukan pelukannya namun tidak sanggup menerima pelukan itu. Suamikupun tidak berani mendekatiku. Dia hanya menunggu dan menuruti apasaja yang kumau. Kadang aku jengkel setengah mati, mengapa dia tidak mau berjuang untuk memelukku kembali.

Siang ini adalah siang tersunyi dalam hidupku. Udara dingin musim penghujan terasa sangat menusuk dihati, bukan diraga. Aku sendiri dirumah ini menghitung-hitung betapa banyak kehilanganku selama ini. Waktu, uang, kesempatan dan keimanan. Semakin kuhitung semakin bermunculan fakta-fakta kehilanganku. Semakin lama dadaku terasa sesak. Aku tidak kuat. Nafasku berpacu. Kupandangi kusen pintu kamar tidur kami. Kusen berwarna coklat tua itu aku perkirakan cukup kuat untuk menahan berat tubuhku. Aku mencari korek api, bersiap untuk memotong tali jemuran yang terbuat dari tali tampar. Aku perkirakan cukup kuat untuk mematahkan batang leherku. Tiba-tiba suara kaki berlari kearah kamarku terdengar. Anak lelakiku yang sudah SMP menyeruak masuk dengan rambut basah kuyup.

“Ibu, sekolah banjir. Nih celanaku basah. Hih….dingin banget.”

Anakku yang beranjak perjaka itu memelukku erat-erat mencari kehangatan. Baju dan rambutnya yang basah, juga membasahi diriku. Aku menitikkan air mata. Anakku tidak melihatnya. Dia masih memelukku sambil bercerita panjang lebar tentang hujan yang menurutnya terdahsyat sepanjang sejarah hidupnya. Sebelum hari ini, dengan kondisi yang sama, aku akan menyuruhnya cepat-cepat ganti baju, membuatkan teh hangat, sambil mengomelinya karena walaupun dia laki-laki tidak seharusnya malu memakai payung jika hujan. Tapi kali ini tidak. Aku memeluknya lama sekali. Aku merindukan pelukan ini. Aku memerlukan pelukan ini untuk tetap hidup. Terima kasih anakku.

Setelah hari ini, aku akan peluk anakku kapanpun aku mau, tidak peduli mereka risih atau aneh. Aku berharap sedikit demi sedikit mereka akan membalas pelukanku, sehingga aku tidak perlu memintanya untuk mempertahankan hidup. Aku akan mengunjungi orangtuaku akhir bulan ini. Aku akan peluk mereka walaupun mereka tidak mengerti mengapa aku memeluk mereka padahal Lebaran belum tiba. Aku berharap sedikit demi sedikit mereka akan membalas pelukanku sehingga ketika hatiku sakit aku dapat merebahkan diriku dalam kehangatan mereka. Dan untuk suamiku…. Aku masih merindukan pelukanmu, namun aku tidak bisa menerima kenyataanmu. Aku tidak bisa menentukan. Apakah kamu sanggup berjuang untuk memelukku kembali? Saat ini aku hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri, dalam pelukan anak-anakku dan orangtuaku.

April 18, 2009

THE WISDOM OF MOVIES

Filed under: CONTEMPLATION — burselfwoman @ 2:12 am

Suatu saat selesai nonton film, kita berkomentar “gue banget tuh”.Kadang kita berkomentar, “dasar film, serba khayal.” Kadang juga, “kok bisa ya bikin cerita fantastis begitu.” You know what, there’s no such thing as imposible in movies. Apapun yang ada di film, ada pula dalam kehidupan nyata, walaupun kita menganggap apa yang ada di film terlalu mustahil. Banyak cara memvisualisasikan sebuah kisah dalam film. Komedi penuh tawa sampai terkencing-kencing, komedi garing, horror kebawa mimpi, horror yang bikin bosen, drama bercucuran air mata, drama penuh kemarahan, romantis yang menyentuh hati, romantis yang bombastis, kriminil sadis, porno yang benar-benar bejat, futuristic, klasik, spiritualitas bagai malaikat, spiritualitas yang manusiawi…. You name it. Futuristik karena kita melihatnya sekarang. Kalau kita melihatnya dimasa mendatang, film itu menjadi klasik. Sebuah film kita anggap terlalu porno, sadis, garing atau romantis karena kita membandingkannya dengan comfort zone kita. Ketika kita keluar dari comfort zone kita, baru kita bisa menerima bahwa hal-hal yang mustahil dalam film ada di kehidupan nyata. Pada dasarnya skenario film hanyalah buatan manusia dan otak manusia sadar ataupun tidak merekam kejadian-kejadian nyata yang ada disekitarnya baik yang berproses maupun simultan serta merekam literature-literatur yang pernah dibaca baik literature ilmiah maupun sekedar komik. Jika kita keluar dari comfort zone kita, kita tergagap tidak percaya bahwa kenyataan yang kita anggap sebagai khayalan orang film ternyata benar-benar ada. Sekalipun kita sadar bahwa semuanya serba mungkin bisa terjadi, kadang yang tidak bisa kita terima adalah “mengapa hal itu bisa terjadi pada diri kita.”

April 8, 2009

JIKA HUJAN

Filed under: CONTEMPLATION — burselfwoman @ 4:33 am

Dunia berputar. Sengsara, senang, duka, bahagia, terhina, dihormati, tersakiti, menyakiti, kaya, bangkrut, dan seterusnya. Saat kita dibawah, kita bersedih-sedih berharap bahagia segera datang, kita berpayah-payah berjuang meraih kesukseskan, bahkan kita bersabar-sabar menanti saat bisa membalaskan dendam. Saat kita diatas, kita takut bayangan kejatuhan, kita mengirit-ngirit takut kembali miskin, kita menyebut-nyebut jasa takut takkan diingat. Hidup sebenarnya terlalu singkat untuk hal-hal yang tidak nyata. Namun kalau kita tidak merasa, justru kita bukan manusia. Yang terbaik bersiaplah untuk keajaiban dan kesialan. Jika itu datang, biarkan sisi kemanusiaan mencoba menerimanya berapapun waktu yang diperlukan. Jika kita dibawah dan terangkat keatas, nikmatilah namun jangan berlebihan. Jika kita diatas dan terbanting kebawah, tangisilah namun jangan membiarkan diri tenggelam. Jika sisi kemanusiaan kita tidak mampu menerimanya, kembalikan semuanya pada Allah. Tidak perlu memikirkannya lagi karena sisi kemusiaan kita sudah selesai melaksanakan tugasnya.

Next Page »

Blog at WordPress.com.