Umurku sudah 40 tahun sekarang. Aku tidak bisa seperti balita yang tiap saat merengek-rengek minta dipeluk. Namun ya Allah, aku sangat merindukan satu pelukan saja. Aku tidak peduli dari siapa pelukan itu. Haruskah aku meminta? Kepada siapa? Bisakah aku memeluk seseorang didekatku begitu saja?
Sepuluh tahun lalu, aku bisa memberikan pelukan begitu saja tanpa banyak berpikir haruskah atau bolehkah atau pantaskah? Aku bisa memeluk berpuluh-puluh kali dalam sehari. Bukan, bukan, aku bukan perempuan gampangan. Ha…ha…ha…. Sepuluh tahun lalu, aku bisa memeluk anakku kapan saja kumau. Aku bisa berlama-lama memeluknya sampai aku puas. Semakin lama aku memeluknya, semakin nyaman anakku dalam dekapanku. Bahkan beberapa saat setelah aku puas memeluknya, aku memeluknya lagi. Sepuluh tahun yang lalu aku bisa memeluk suamiku kapanpun dia ada didekatku. Aku bisa memeluknya sambil nonton TV, sambil menunggui anak kami karnaval, sambil jalan-jalan ditempat-tempat hiburan, didepan mertua, didepan teman-teman, dan tentu saja dikamar kami.
Sepuluh tahun lalu aku memang teramat jarang memeluk orangtuaku. Orangtuaku selalu memposisikan diri sebagai orangtua yang harus dihormati. Aku harus selalu bersikap sopan dihadapan mereka. Aku jarang menyentuh mereka. Aku hanya memeluk mereka ketika aku menikah dan tiap Lebaran. Mungkin sewaktu aku kecil mereka sering memeluk aku. Tapi aku tidak ingat. Tidak membekas dihatiku. Aku juga tidak memiliki foto kami sedang berpelukan. Aku sering membayangkan betapa nyamannya aku dalam pelukan ibuku. Anehkah jika aku seumur ini minta sebuah pelukan pada ibuku, sementara ketika aku masih muda dan dicampakkan pacarku dulu, aku enggan memeluknya dan mengadu?
Aku tak bisa mengingat kapan aku mulai kehilangan pelukan anakku. Aku bahkan tidak merasakan lambat laun pelukan itu mulai jarang dan akhirnya menghilang, sampai detik ini ketika aku tersadar. Ketika aku tersadar, aku sungguh-sungguh menginginkan pelukan itu. Tapi anehkah jika aku meminta sebuah pelukan kepada anakku? Anak-anak menapaki masa remaja dan entah karena kedataran perasaanku atau karena kesibukanku, anak-anak kehilangan keintiman denganku. Anak-anak tidak pernah lagi datang padaku tanpa alasan khusus. Mereka tidak pernah datang lagi padaku semata-mata hanya untuk mencari comfort. Mereka selalu datang dengan berbagai alasan serius seperti, minta uang les, berkelahi dengan teman, diskors sekolah, kena tilang, kecopetan, perlu buku baru, minta notebook, isi pulsa….Hal-hal seperti itu.
Aku menginginkan kembali sebuah pelukan justru karena aku kehilangan pelukan dari suamiku secara mendadak akhir-akhir ini. Suamiku…. Suamiku adalah seorang penyayang. Aku nyaman sekali dalam dekapannya. Aku tidak perlu meminta. Namun kini aku harus menolaknya ketika aku menemukan foto-fotonya dengan perempuan lain. Aku tidak mengenal perempuan itu. Tidak penting. Yang terpenting adalah kenyataan bahwa perempuan itu telah mendapat pelukan yang sama denganku dari suamiku selama bertahun-tahun. Sekalipun suamiku telah memohon ampun dan mencium telapak kakiku, aku tak kuasa menerima pelukannya tanpa rasa sakit yang mendalam. Aku sangat mencintainya, aku sangat merindukannya setelah sekian bulan aku mendiamkannya. Aku merindukan pelukannya namun tidak sanggup menerima pelukan itu. Suamikupun tidak berani mendekatiku. Dia hanya menunggu dan menuruti apasaja yang kumau. Kadang aku jengkel setengah mati, mengapa dia tidak mau berjuang untuk memelukku kembali.
Siang ini adalah siang tersunyi dalam hidupku. Udara dingin musim penghujan terasa sangat menusuk dihati, bukan diraga. Aku sendiri dirumah ini menghitung-hitung betapa banyak kehilanganku selama ini. Waktu, uang, kesempatan dan keimanan. Semakin kuhitung semakin bermunculan fakta-fakta kehilanganku. Semakin lama dadaku terasa sesak. Aku tidak kuat. Nafasku berpacu. Kupandangi kusen pintu kamar tidur kami. Kusen berwarna coklat tua itu aku perkirakan cukup kuat untuk menahan berat tubuhku. Aku mencari korek api, bersiap untuk memotong tali jemuran yang terbuat dari tali tampar. Aku perkirakan cukup kuat untuk mematahkan batang leherku. Tiba-tiba suara kaki berlari kearah kamarku terdengar. Anak lelakiku yang sudah SMP menyeruak masuk dengan rambut basah kuyup.
“Ibu, sekolah banjir. Nih celanaku basah. Hih….dingin banget.”
Anakku yang beranjak perjaka itu memelukku erat-erat mencari kehangatan. Baju dan rambutnya yang basah, juga membasahi diriku. Aku menitikkan air mata. Anakku tidak melihatnya. Dia masih memelukku sambil bercerita panjang lebar tentang hujan yang menurutnya terdahsyat sepanjang sejarah hidupnya. Sebelum hari ini, dengan kondisi yang sama, aku akan menyuruhnya cepat-cepat ganti baju, membuatkan teh hangat, sambil mengomelinya karena walaupun dia laki-laki tidak seharusnya malu memakai payung jika hujan. Tapi kali ini tidak. Aku memeluknya lama sekali. Aku merindukan pelukan ini. Aku memerlukan pelukan ini untuk tetap hidup. Terima kasih anakku.
Setelah hari ini, aku akan peluk anakku kapanpun aku mau, tidak peduli mereka risih atau aneh. Aku berharap sedikit demi sedikit mereka akan membalas pelukanku, sehingga aku tidak perlu memintanya untuk mempertahankan hidup. Aku akan mengunjungi orangtuaku akhir bulan ini. Aku akan peluk mereka walaupun mereka tidak mengerti mengapa aku memeluk mereka padahal Lebaran belum tiba. Aku berharap sedikit demi sedikit mereka akan membalas pelukanku sehingga ketika hatiku sakit aku dapat merebahkan diriku dalam kehangatan mereka. Dan untuk suamiku…. Aku masih merindukan pelukanmu, namun aku tidak bisa menerima kenyataanmu. Aku tidak bisa menentukan. Apakah kamu sanggup berjuang untuk memelukku kembali? Saat ini aku hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri, dalam pelukan anak-anakku dan orangtuaku.